Rabu, 05 September 2012

Ar Razi dan Konsep Manusia Mulia


“Manusia mulia adalah manusia yang mengutamakan wahyu Allah dan akalnya dibanding mengikuti hawa nafsunya,” demikian ungkap Fakhruddin ar-Razi dalam karyanya Kitab an-Nafs wa ar-Ruh wa as-Syarh Quwahuma (Buku Mengenai Jiwa dan Ruh dan Komentar Terhadap Kedua Potensinya).
Fakhruddin ar-Razi adalah seorang ulama-intelek yang berwibawa (m. 606 H/ 1210 M). Ia menulis ratusan kitab dalam bidang Tafsir, Fiqih, Ushul Fiqih, Kalam, Logika, Fisika, Filsafat, Kedokteran, Matematika, Astronomi, dan sebagainya. Menurut ar-Razi,  manusia memiliki hawa nafsu dan tabiat yang selalu berusaha menggiringnya untuk memiliki sifat-sifat buruk. Tapi, jika manusia lebih mengutamakan bimbingan wahyu Allah dan akal dibanding hawa nafsunya, maka ia akan jadi mulia. Bahkan, manusia bisa lebih mulia dari malaikat.  Mengapa? Malaikat selalu bertasbih karena tidak memiliki hawa nafsu, sementara manusia harus berjuang melawan hawa nafsunya. Demikian pendapat Fakhruddin ar-Razi.
Bagi Fakhruddin ar-Razi, kebahagiaan jiwa atau kenikmatan ruhani lebih tinggi martabatnya dibanding kebahagiaan fisik atau kenikmatan jasmani, semisal kuliner, seks dan hasrat memiliki materi.  Argumentasinya sebagai berikut.  Pertama, jika  kebahagiaan manusia terkait dengan hawa nafsu dan mengikuti amarah, maka hewan-hewan tertentu  -- yang amarah dan nafsunya lebih hebat --  akan lebih tinggi martabatnya dibanding manusia.  Singa lebih kuat nafsu amarahnya dibanding manusia; burung lebih kuat daya seksualnya ketimbang manusia. Tapi, faktanya, singa dan burung tidak lebih mulia dari manusia.

Jumat, 31 Agustus 2012

Keutamaan Puasa Syawwal


Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر
“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).
Filosofi pahala puasa 6 hari di bulan Syawal setelah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan sama dengan puasa setahun, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya.
Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya:
1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.
2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.

Kamis, 12 Juli 2012

SMS Maaf-maafan Menjelang Ramadan


Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum. Benarkah isi sms maaf-maafan yang marak tersebar akhir-akhir ini? Isinya:

Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.


Do’a Malaikat Jibril adalah: “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:

Sabtu, 07 Juli 2012

8 Tips Menyambut Ramadhan


Ramadhan yang penuh kelimpahan kebaikan dan keutamaan, akan dapat dirasakan dan diraih ketika ilmu tentang Ramadhan dipahami dengan baik.
Bayangkan, para generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan suci ini. Mereka berdo’a selama enam bulan sebelum kedatangannya agar mereka dipanjangkan umurnya sehingga bertemu dengan Ramadhan. Saat Ramadhan tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keuataman Ramadhan. Dan ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdo’a selama enam bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah swt. Kerinduan itu ada pada diri mereka, karena mereka sadar dan paham betul keutamaan dan keistimewaan Ramadhan.
Bagaimana menyambut bulan Ramadhan? Berikut kami hadirkan “8 Tips Sambut Ramadhan”.
1. Berdoa agar Allah swt. memberikan umur panjang kepada kita sehingga kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat. Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal: Puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma baariklanaa fii rajab wa sya’ban, wa balighnaa ramadhaan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Jumat, 22 Juni 2012

Catatan Seputar Bedah Buku “ Islam Liberal 101”


Oleh: Abu Muhammad Abdullah Al Munawy
( Ketua Umum UKM LDM AL-ADAAB FIB Unhas Periode  2010-2011 M)

Baru-baru ini, untuk kesekian kalinya Solidaritas Muslim Se Fakultas Ilmu Sosial menyelenggarakan kegiatan  akbar. Kegiatan kali ini bertajuk bedah buku dengan tema “Mengenal dan Menangkal Jaringan Islam Liberal”. Kegitan ini merupakan kerjasama antara Solidaritas Muslim Se Fakultas Ilmu Sosial dengan UKM LDK MPM Unhas serta didukung oleh Komunitas Gerakan Indonesia Tanpa JIL Makassar .Walaupun diselingi berbagai kendala seputar belum fiks-nya tempat kegiatan beberapa hari sebelum hari H, akhirnya qadarullah walhamdulillah kegiatan ini berhasil di adakan di Ruang LT.8  Unhas  pada tanggal 29 Rajab 1433 H/19 Juni 2012. Tidak kurang sekitar 200 peserta ikhwa dan akhwat memadati kegiatan ini yang umumnya merupakan mahasiswa dari beberapa kampus di Makassar.
 Buku yang di bedah pada kegiatan kali ini berjudul Islam Liberal 101 yang dibedah langsung oleh penulisnya sendiri yakni Ust Akmal Sjafril,.ST.,M.PdI sebagai pemateri utama. Beliau merupakan alumni Institut Teknologi Bandung di Jurusan Teknik Sipil. Adapun Program S2 beliau tempuh di Program Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Hadir sebagai pemateri pembanding yaitu Bapak Dr. Muhammad Rusdi, MSi. Beliau adalah dosen di Jurusan Administrasi Negara FISIP Unhas yang sangat antusias dalam mengamati isu-isu keislaman. Adapun moderator dalam kegiatan ini adalah Ust Syamsuddin La Hanufi, S.PdI yang sementara menempuh pendidikan S2 di PPS Ibnu Khaldun Bogor.