Rabu, 28 November 2012
Senin, 15 Oktober 2012
10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
- Dzulhijjah merupakan salah satu bulan istimewa dalam Islam. Terutama,
pada sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah itu. Setidaknya, ada 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah sebagai berikut :
1. Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah merupakan waktu yang mulia dan barakah
Keutamaan pertama dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah, bahwa waktu itu adalah waktu yang mulia dan barakah.
Bukti kemuliaan ini adalah sumpah Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an al-Karim.
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Demi fajar, dan malam yang sepuluh (QS. Al-Fajr: 1-2)
“Wa layaalin ‘asr (dan malam yang sepuluh)," kata Imam al-Thabari dalam tafsirnya,"adalah adalah malam-malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan hujjah dari ahli tafsir.”
Ibnu Katsir juga menjelaskan hal yang sama dalam tafsir Qur'anil adhim. “Dan malam-malam yang sepuluh," tulisnya, "adalah sepuluh (hari pertama) Dzulhijjah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan lebih dari satu ulama salaf dan khalaf.”
1. Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah merupakan waktu yang mulia dan barakah
Keutamaan pertama dari 10 Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah adalah, bahwa waktu itu adalah waktu yang mulia dan barakah.
Bukti kemuliaan ini adalah sumpah Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an al-Karim.
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Demi fajar, dan malam yang sepuluh (QS. Al-Fajr: 1-2)
“Wa layaalin ‘asr (dan malam yang sepuluh)," kata Imam al-Thabari dalam tafsirnya,"adalah adalah malam-malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan hujjah dari ahli tafsir.”
Ibnu Katsir juga menjelaskan hal yang sama dalam tafsir Qur'anil adhim. “Dan malam-malam yang sepuluh," tulisnya, "adalah sepuluh (hari pertama) Dzulhijjah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan lebih dari satu ulama salaf dan khalaf.”
Rabu, 05 September 2012
Ar Razi dan Konsep Manusia Mulia
“Manusia mulia adalah manusia yang mengutamakan wahyu
Allah dan akalnya dibanding mengikuti hawa nafsunya,” demikian ungkap
Fakhruddin ar-Razi dalam karyanya Kitab an-Nafs wa ar-Ruh wa as-Syarh
Quwahuma (Buku Mengenai Jiwa dan Ruh dan Komentar Terhadap Kedua
Potensinya).
Fakhruddin ar-Razi adalah seorang
ulama-intelek yang berwibawa (m. 606 H/ 1210 M). Ia menulis ratusan
kitab dalam bidang Tafsir, Fiqih, Ushul Fiqih, Kalam, Logika, Fisika,
Filsafat, Kedokteran, Matematika, Astronomi, dan sebagainya. Menurut
ar-Razi, manusia memiliki hawa nafsu dan tabiat yang selalu berusaha
menggiringnya untuk memiliki sifat-sifat buruk. Tapi, jika manusia lebih
mengutamakan bimbingan wahyu Allah dan akal dibanding hawa nafsunya,
maka ia akan jadi mulia. Bahkan, manusia bisa lebih mulia dari
malaikat. Mengapa? Malaikat selalu bertasbih karena tidak memiliki hawa
nafsu, sementara manusia harus berjuang melawan hawa nafsunya. Demikian
pendapat Fakhruddin ar-Razi.
Bagi Fakhruddin
ar-Razi, kebahagiaan jiwa atau kenikmatan ruhani lebih tinggi
martabatnya dibanding kebahagiaan fisik atau kenikmatan jasmani, semisal
kuliner, seks dan hasrat memiliki materi. Argumentasinya sebagai
berikut. Pertama, jika kebahagiaan manusia terkait dengan hawa nafsu
dan mengikuti amarah, maka hewan-hewan tertentu -- yang amarah dan
nafsunya lebih hebat -- akan lebih tinggi martabatnya dibanding
manusia. Singa lebih kuat nafsu amarahnya dibanding manusia; burung
lebih kuat daya seksualnya ketimbang manusia. Tapi, faktanya, singa dan
burung tidak lebih mulia dari manusia.
Jumat, 31 Agustus 2012
Keutamaan Puasa Syawwal
Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر
“Barangsiapa
berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam
hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu
tahun.” (HR. Muslim).
Filosofi pahala puasa 6 hari di bulan
Syawal setelah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan sama dengan puasa
setahun, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali
lipatnya.
Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya:
1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.
2.
Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi
sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti
perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan
perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa
fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan
ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan
menyempurnakannya.
Kamis, 12 Juli 2012
SMS Maaf-maafan Menjelang Ramadan
Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum. Benarkah isi sms maaf-maafan yang marak tersebar akhir-akhir ini? Isinya:
Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.
Do’a Malaikat Jibril adalah: “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
Assalamu ‘alaikum. Benarkah isi sms maaf-maafan yang marak tersebar akhir-akhir ini? Isinya:
Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.
Do’a Malaikat Jibril adalah: “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
Sabtu, 07 Juli 2012
8 Tips Menyambut Ramadhan
Bayangkan, para
generasi awal Islam sangat merindukan bertemu dengan bulan suci ini.
Mereka berdo’a selama enam bulan sebelum kedatangannya agar mereka
dipanjangkan umurnya sehingga bertemu dengan Ramadhan. Saat Ramadhan
tiba, mereka sungguh-sungguh meraih kebaikan dan keuataman Ramadhan. Dan
ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka berdo’a selama enam
bulan setelahnya, agar kesungguhannya diterima Allah swt. Kerinduan itu
ada pada diri mereka, karena mereka sadar dan paham betul keutamaan dan
keistimewaan Ramadhan.
Bagaimana menyambut bulan Ramadhan? Berikut kami hadirkan “8 Tips Sambut Ramadhan”.
1. Berdoa agar Allah swt. memberikan umur panjang kepada kita
sehingga kita berjumpa dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat.
Dengan keadaan sehat, kita bisa melaksanakan ibadah secara maksimal:
Puasa, shalat, tilawah, dan dzikir. Dari Anas bin Malik r.a. berkata,
bahwa Rasulullah saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ”Allahuma baariklanaa fii rajab wa sya’ban, wa balighnaa ramadhaan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.” (HR. Ahmad dan Thabrani)
Jumat, 22 Juni 2012
Catatan Seputar Bedah Buku “ Islam Liberal 101”
Oleh: Abu Muhammad Abdullah Al Munawy
( Ketua Umum UKM LDM AL-ADAAB FIB Unhas Periode 2010-2011 M)
Baru-baru
ini, untuk kesekian kalinya Solidaritas Muslim Se Fakultas Ilmu Sosial menyelenggarakan
kegiatan akbar. Kegiatan kali ini
bertajuk bedah buku dengan tema “Mengenal dan Menangkal Jaringan Islam Liberal”.
Kegitan ini merupakan kerjasama antara Solidaritas Muslim Se Fakultas Ilmu
Sosial dengan UKM LDK MPM Unhas serta didukung oleh Komunitas Gerakan Indonesia
Tanpa JIL Makassar .Walaupun diselingi berbagai kendala seputar belum fiks-nya
tempat kegiatan beberapa hari sebelum hari H, akhirnya qadarullah walhamdulillah
kegiatan ini berhasil di adakan di Ruang LT.8 Unhas
pada tanggal 29 Rajab 1433 H/19 Juni 2012. Tidak kurang sekitar 200
peserta ikhwa dan akhwat memadati kegiatan ini yang umumnya merupakan mahasiswa
dari beberapa kampus di Makassar.
Buku yang di bedah pada kegiatan kali ini
berjudul Islam Liberal 101 yang dibedah langsung oleh penulisnya sendiri yakni
Ust Akmal Sjafril,.ST.,M.PdI sebagai pemateri utama. Beliau merupakan alumni
Institut Teknologi Bandung di Jurusan Teknik Sipil. Adapun Program S2 beliau
tempuh di Program Pasca Sarjana Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Hadir sebagai
pemateri pembanding yaitu Bapak Dr. Muhammad Rusdi, MSi. Beliau adalah dosen di
Jurusan Administrasi Negara FISIP Unhas yang sangat antusias dalam mengamati
isu-isu keislaman. Adapun moderator dalam kegiatan ini adalah Ust Syamsuddin La
Hanufi, S.PdI yang sementara menempuh pendidikan S2 di PPS Ibnu Khaldun Bogor.
Langganan:
Postingan (Atom)







